Cardovanews.com, Batam – Penawar Special Learning Center (PSLC) menggelar Batam Autism Conference 2025 (BAC2025) di Hotel Harmoni One, Minggu, 29 Juni 2025.
Konferensi ini menjadi panggung kolaborasi berbagai pihak dalam upaya menjawab tantangan peningkatan kasus autisme pascapandemi COVID-19.
Rangkaian kegiatan yang meliputi talkshow, lokakarya, pameran terapi, serta screening gratis untuk orang tua yang ingin berkonsultasi mengenai kondisi anak berkebutuhan khusus.
Direktur Klinis PSLC, dr. Ruwinah Abdul Karim, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang terapi yang bisa diterapkan di rumah secara mandiri. “Kami membuka banyak stand agar semua peserta dapat terlayani dengan optimal,” ujar dr. Ruwinah
Antusiasme masyarakat terlihat jelas. berjumlah 200 orang tua tercatat mendaftar untuk mengikuti layanan screening gratis.
Dalam kegiatan itu, sebanyak 120 anak menjalani proses penyaringan awal dengan hasil berupa ringkasan laporan yang bisa langsung diserahkan ke dokter atau pusat terapi lanjutan. “Sebagian besar anak harus menjalani terapi rutin, baik mingguan, bulanan, bahkan tahunan,” ungkap dr. Ruwinah.
Menurutnya, konferensi ini menjadi ruang interaktif di mana orang tua bisa menyaksikan langsung bentuk-bentuk terapi yang biasanya dilakukan terhadap anak autis. “Tujuannya agar setelah pulang, mereka bisa mengajarkan terapi sederhana di rumah,” katanya.
Autisme Pascapandemi, Tantangan Baru
Dalam pemaparannya, dr. Ruwinah menyoroti fenomena ledakan kasus autisme yang muncul seiring dengan berakhirnya masa pandemi. “Pandemi sebenarnya bukan hanya COVID-19, tapi juga ledakan kasus autisme. Kita perlu bersiap secara komprehensif,” tegasnya.
Meski penyebab pasti autisme belum diketahui secara ilmiah, faktor genetik sering menjadi sorotan. Namun, dalam banyak kasus, autisme juga ditemukan pada anak dari orang tua sehat tanpa riwayat keluarga penyandang autisme.
Ia menggarisbawahi potensi pengaruh dari pola pengasuhan modern, khususnya keterpaparan anak terhadap gadget. “Penggunaan gawai yang berlebihan dan tidak tepat bisa berdampak pada tumbuhnya autisme,” jelasnya.
Terlebih lagi, definisi autisme kini berkembang. Anak-anak yang mengalami ketergantungan berat pada perangkat digital hingga tantrum saat gawai diambil, disebutnya bisa tergolong autisme ringan. “Kasus seperti ini cukup banyak, namun kerap tidak disadari oleh orang tua,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gejala seperti keterlambatan bicara atau keterlambatan bicara. “Sayangnya, banyak orang tua abai terhadap tanda-tanda awal ini.”
Wadah Edukasi untuk Pendidik dan Terapis
BAC2025 tidak hanya menyasar orang tua, tetapi juga menjadi tempat belajar bagi para pendidik yang selama ini merasa kebingungan saat mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus di kelas. Dr. Ruwinah menyampaikan bahwa banyak guru yang hadir dalam kegiatan tersebut, bahkan ikut membawa serta orang tua murid untuk melakukan screening.
“Mereka ingin tahu bagaimana cara mendampingi anak autis di kelas,” ujarnya. Para pendidik juga aktif bertanya mengenai modul pembelajaran, kurikulum, hingga standar penanganan autisme di lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan sedikitnya panduan operasional yang tersedia selama ini.
Salah seorang peserta, Dian, guru dari salah satu sekolah inklusif di Batam, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru. “Sekarang saya merasa lebih percaya diri dan tahu langkah awal yang bisa dilakukan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. “Kami para guru sangat membutuhkan bimbingan agar bisa lebih siap mendampingi anak-anak dengan kebutuhan khusus,” tambahnya.
Membangun Jembatan Kolaborasi
Konferensi ini, menurut dr. Ruwinah, menjadi sarana strategi untuk membangun jembatan kolaborasi antara pendidik, tenaga medis, terapis, dan orang tua. Keberadaan Pusat Pembelajaran Khusus Penawar, kata dia, diharapkan menjadi wadah interaksi lintas profesi dalam upaya menyusun pendekatan holistik menghadapi autisme.
“Autisme ringan saat ini merupakan kasus terbanyak. Maka, peran orang tua sangat penting dalam membantu anak mereka melewati tantangan ini,” tutupnya.
Konferensi yang berlangsung selama satu hari ini dinilai keberhasilan mengakomodasi kebutuhan informasi dan dukungan dari berbagai kalangan. Di tengah kerumitan masalah autisme, kegiatan seperti ini menjadi oase harapan bagi mereka yang selama ini berjalan dalam kesulitan.
