Warga Tuntut RDF Rorotan Tutup Total

Cardovanews.com – Jakarta — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi keluhan warga terkait keberadaan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan di Jakarta Utara. Menurutnya, sumber utama persoalan bukan berasal dari fasilitas RDF itu sendiri, melainkan dari transportasi dan pengelolaan sampah yang belum optimal, Kamis (6/11/2025).

“Jadi RDF Rorotan sebenarnya permasalahannya bukan di RDF-nya. Kita sudah melakukan commissioning sampai dengan kapasitas 1.000–1.200 ton. Saya akui secara jujur, problemnya ada di transportasi dan sampahnya,” ujar Pramono di Jakarta Pusat, Senin (3/10).

Pramono menjelaskan bahwa sampah yang dikirim ke Rorotan seharusnya hanya ditampung selama dua hingga lima hari. Namun, dalam praktiknya, banyak sampah yang menumpuk lebih lama, bahkan menimbulkan bau menyengatakibat air lindi yang tumpah di jalan saat proses pengangkutan.

“Kemarin mobil yang mengangkut itu air lindinya bertebaran. Itu menyebabkan bau menyebar ke mana-mana,” jelasnya.

Selain itu, sebagian sampah yang belum sempat diolah juga menimbulkan pencemaran udara di sekitar kawasan Rorotan. Pramono pun berjanji akan segera meninjau langsung lokasi RDF Plant untuk memastikan penanganannya berjalan dengan baik.

“Ketika sampah belum diolah, memang menimbulkan bau. Padahal untuk fasilitas RDF-nya sendiri sudah tertangani. Dalam waktu dekat saya akan ke lapangan dan menerima warga yang mengeluh, karena persoalan ini harus segera diselesaikan,” tegasnya.

Warga Keluhkan Bau dan Dampak Kesehatan

Sementara itu, sejumlah warga dari beberapa kluster perumahan di sekitar RDF Plant Rorotan berencana menggelar aksi unjuk rasa menuntut penutupan fasilitas tersebut. Mereka menilai kegiatan RDF masih berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan.

“Kami berharap RDF ini ditutup karena sudah tiga kali melakukan uji coba, tapi hasilnya tetap berdampak pada warga. Ada yang sakit mata, batuk pilek, hingga ISPA,” ujar Wahyu Andre Maryono, Koordinator Forum Warga sekaligus Ketua RT 18 Cakung Timur (Shinano, Mahakam & Savoy JGC), Senin.

Menurut Wahyu, tiga kali uji coba—yakni pada Februari–Maret 2025, Juni–Juli 2025, dan Oktober–November 2025—belum menunjukkan hasil signifikan. Ia menyebut bau menyengat dan polusi udara masih terasa hingga ke permukiman warga.

Pemprov DKI Diminta Bertindak Cepat

Masyarakat berharap Pemprov DKI segera mengambil langkah konkret agar pengelolaan sampah RDF Rorotan tidak lagi menimbulkan dampak negatif bagi warga sekitar. Gubernur Pramono menegaskan bahwa komunikasi dengan warga akan dibuka, serta penanganan terhadap sistem transportasi dan pengolahan sampah akan menjadi fokus utama.

“RDF Rorotan, apa pun alasannya, harus diselesaikan,” pungkas Pramono.

(SP).