Cardovanews.com – (18/11/2025) menjadi momen istimewa bagi warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Pada hari ini, Persyarikatan Muhammadiyah memperingati Milad ke-113, sesuai dengan penetapan tanggal berdirinya pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H.
Tahun ini, milad Muhammadiyah mengangkat tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, sebuah seruan untuk memperkuat kontribusi persyarikatan dalam memajukan kualitas hidup masyarakat. Tema tersebut menekankan pentingnya kesejahteraan yang meliputi aspek sosial-ekonomi serta kesejahteraan moral dan spiritual, demi terwujudnya kemajuan yang utuh lahir dan batin.
Muhammadiyah: Gerakan Modernis dengan Jangkauan Global
Sebagai gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, Muhammadiyah telah berperan besar dalam dunia pendidikan, kesehatan, dan sosial. Tidak hanya di tanah air, kiprahnya telah melebar ke ranah internasional dengan 30 cabang istimewa di luar negeri. Organisasi ini terus aktif dalam misi kemanusiaan global untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan sosial.
Anggota Muhammadiyah sendiri berasal dari latar belakang profesi, budaya, dan etnis yang beragam. Keragaman ini menjadi kekuatan yang mendorong Muhammadiyah terus tumbuh dan berkembang di seluruh penjuru Indonesia.
Sejarah Berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan oleh seorang pembaharu bernama Muhammad Darwis, yang kemudian dikenal sebagai KH. Ahmad Dahlan. Beliau lahir di Kauman, Yogyakarta, pada Agustus 1869 dari keluarga ulama terkemuka. Sebagai pegawai Kesultanan Yogyakarta dan seorang pedagang, KH. Ahmad Dahlan menyaksikan kondisi keagamaan masyarakat yang stagnan dan dipenuhi praktik mistik.
Melihat kondisi tersebut, ia terdorong untuk mengajak umat kembali kepada ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis. Ajaran yang mulanya disampaikan dari rumahnya ini sempat ditolak, namun berkat kesabaran dan ketekunannya, dakwah beliau akhirnya diterima dan menyebar luas hingga ke luar Jawa.
Untuk mengorganisir aktivitas keagamaan dan sosial tersebut, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah, yang hingga kini terus berkembang dan menjadi salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di Indonesia.
Ketokohan KH. Ahmad Dahlan dan Kiprah Keluarganya
KH. Ahmad Dahlan tidak hanya dikenal sebagai ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama—termasuk fiqh, nahwu, hadits, qiraah, hingga ilmu falaq—tetapi juga sebagai sosok visioner yang memahami ilmu umum, bahasa, serta pemikiran kemodernan.
Pada tahun 1889, beliau menikahi Siti Walidah, yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Mengikuti semangat pembaruan suaminya, Siti Walidah turut mendirikan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan modernis pertama di Indonesia pada 19 Mei 1917. Hingga kini, ‘Aisyiyah menjadi wadah penting pemberdayaan perempuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Teladan Pengorbanan KH. Ahmad Dahlan
Sepanjang hidupnya, KH. Ahmad Dahlan memberikan banyak teladan tentang keikhlasan dan pengabdian. Salah satu kisah yang paling dikenang adalah ketika sekolah Muhammadiyah kekurangan biaya. Beliau rela melelang barang-barang pribadinya demi membayar gaji guru dan menutupi kebutuhan operasional sekolah. Tindakan ini menggugah simpati banyak orang yang kemudian membeli barang-barang tersebut dengan harga tinggi dan mengembalikannya lagi.
Hingga akhir hayatnya, beliau tetap aktif berdakwah dan memajukan pendidikan. Pada tahun 1918, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Hizbul Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah, serta memprakarsai berdirinya musala khusus perempuan pertama di Hindia-Belanda.
Warisan Pemikiran dan Semangat Kemajuan
KH. Ahmad Dahlan meyakini bahwa Islam adalah agama yang membawa nilai-nilai kemajuan. Melalui Muhammadiyah, ia menekankan pentingnya Islam yang “kemadjoean”—Islam yang mendorong terciptanya peradaban unggul, mencerahkan, dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia.
Di usia yang ke-113 tahun ini, Muhammadiyah terus meneruskan visi besar tersebut melalui gerakan dakwah, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat yang semakin luas dan progresif.
(Red).










