Cardovanews.com – Tapanuli Utara – Kondisi jalan lintas Sumatera di wilayah Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, memprihatinkan. Puluhan kilometer jalan yang berstatus sebagai jalan nasional itu rusak parah dan jauh dari standar jalan negara.
Pantauan Info Indonesia pada Minggu (28/9/2025), ruas jalan mulai dari Siborongborong, Taput hingga Sipirok, Tapanuli Selatan, sepanjang kurang lebih 50 kilometer terlihat seperti jalan kabupaten. Kerusakan paling parah terdapat di Desa Sibingke hingga Desa Rahut Bosi, Kecamatan Pangaribuan.
Kecepatan kendaraan roda empat di jalur ini tidak bisa melebihi 30 km/jam. Musim hujan memperburuk keadaan karena lubang yang merata di sepanjang 20 kilometer jalan tergenang air, menyerupai kubangan kerbau.
Lalu lintas padat truk tonase berat
Di sepanjang perjalanan, terlihat truk-truk pengangkut kayu dan material dengan muatan melebihi tonase melintas setiap waktu. Menurut warga, kondisi ini sudah berlangsung puluhan tahun tanpa ada tindakan penertiban dari pihak terkait, termasuk Dinas Perhubungan Tapanuli Utara.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sebuah jembatan kecil di Desa Rahut Bosi hampir terputus akibat tergerus arus air. Kiri dan kanan jembatan terlihat terkikis derasnya aliran sungai yang meluap.
Proyek perbaikan tanpa transparansi
Tim Info Indonesia juga menemukan adanya pekerjaan perbaikan jalan. Namun, kualitasnya diragukan lantaran di lokasi tidak terlihat pekerja maupun papan proyek sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat.
Warga: Jalan Nasional tapi tak layak
Rindu Pakpahan (53), warga Pansurnatolu, menyampaikan keluhan kepada pemerintah agar serius memperhatikan kondisi jalan tersebut.
“Setahu kami, jalan ini statusnya jalan nasional. Tapi kondisinya tidak seperti jalan nasional lain yang lebar dan berkualitas. Kami berharap ada pembangunan total, termasuk pelebaran jalan, agar ekonomi masyarakat bisa meningkat,” ujarnya.
Sentra ekonomi terhambat transportasi
Kecamatan Pangaribuan dan Sipahutar dikenal sebagai sentra penghasil kemenyan dan nenas. Dalam tiga dekade terakhir, wilayah ini juga berkembang menjadi produsen kopi, singkong, jagung, getah pinus, dan jeruk manis.
Namun, akses jalan yang buruk membuat distribusi hasil pertanian terganggu dan ekonomi masyarakat sulit berkembang. Warga berharap pemerintah pusat, Pemprov Sumatera Utara, maupun Pemkab Taput segera menindaklanjuti kondisi jalan lintas Sumatera ini sebelum semakin parah.
[SP].










