Arifin Wali Kota Jakarta Pusat Memimpin Wilayah Para Pemimpin

Cardovanews.com – Jakarta Pusat adalah pusat pemerintahan, bisnis dan poltik. Wilayah ini merupakan pusat semua urusan pemimpin, pebisnis, dan politisi nasional maupun internasional.

Karena zona strategis ini pula jabatan Wali Kota Jakarta Pusat selalu menjadi perhatian dan titik sentral yang diperebutkan berbagai kalangan. Maka dari semua jabatan 5 wali kota dan bupati Kepulauan Seribu, Wali Kota Jakarta Pusat memiliki citra paling prestisius.

Cardovanews kali ini mendapat kesempatan emas mewawancarai Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, di kantornya, Jumat (16/5/2025). Dia didampingi Ika Meilani Untari, Kasi Komunikasi dan Informasi Publik Sudinkominfotik Jakarta Pusat.

Arifin mengaku, sebelumnya tidak berpikir akan dipercaya memimpin Jakarta Pusat usai menjabat Kepala Ssatpol PP DKI Jakarta sejak 2019 hingga dilantik pada 29 November 2024 oleh Penjabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono.

Arifin menjelaskan, latar belakang dan sejarah perjalanan karirnya dimulai dari masuk ASN DKI Jakarta pada 1995. Alumni STPDN Jatinangor ini merangkak dari bawah.

Bisa dibilang Arifin kala itu adalah the rising star. Sebab, di usia yang masih muda, dia berhasil menapaki tangga yang terjal menuju puncak karirnya.

Bahkan, pada 2013, Arifin menjabat sebagai Sekretaris Kota Jakarta Timur pada umur 41 tahun.

Namun, cerita sukses karir Arifin bukan tanpa duri, rintangan dan polemik tajam. Semasa memimpin Kasatpol PP DKI Jakarta, Arifin digoncang berbagai tudingan miring, di antaranya pungli jabatan.

Selain itu, juga urusan bisnis periklanan yang bernilai fantastis hingga miliaran hingga kritikan soal LHKPN yang dinilai tidak wajar.

Menjawab semua rintangan dan tantangan keras itu, Arifin menyikapinya dengan dewasa, kalem dan tenang.

“Semua rintangan, tantangan dan tuduhan itu saya maknai sebagai suplemen buat menyehatkan jiwa, mendewasakan dan mendidik kita bersikap dewasa dan lebih bijaksana,” ujar Arifin.

“Saya diajari alam memahami apa dibalik yang terlihat, terdengar dan terekspos. Usut punya usut makin terang benderang terungkap sikap apatisme, sinisme penyerangan yang sifatnya pribadi pun dilatar belakangi niat niat kurang baik. Sebaliknya buat saya itu adalah suplemen positif. Karena pada akhirnya yang menilai dan menentukan adalah alam dan kebenaran,” paparnya

Kini, Arifin memimpin Jakarta Pusat dan warganya di pusaran kekuasaan, bisnis dan politik, yang di dalamnya terdapat Kantor Presiden, Wakil Presiden, Menteri dan Kepala Badan, Gubernur hingga duta besar negara asing.

Lalu apa konsepnya memimpin wilayah strategis ini?

Arifin menjawabnya dengan lugas, bahwa setiap harinya dia membangun interaksi dengan jajarannya tanpa kecuali.

“Mereka saya rangkul, saya bangun komunikasi yang intens, dan tak jarang saya ajak bicara langsung di ruang kerja mereka atau di lapangan guna menghilangkan rasa kaku dan gamang,” ujarnya.

Semua jajarannya, mulai kepala suku dinas hingga camat dan lurah semua dilibatkan dan bersinergi satu sama lain.

Prinsipnya, tidak ada satu orangpun bisa hidup seorang diri. Begitulah gambarannya memotivasi pegawai. Dalam keadaan tertentu dia bisa menegur dengan keras, namun teguran itu bukan berdiri sendiri.

“Justru dalam kekeliruan itu, saya tegur keras dan ajarkan bagaimana mestinya. Sehingga orang yang kita tegur atau marahi, tidak terpuruk dan merasa direndahkan,” urainya.

Dia menegaskan, pihaknya memang dituntut untuk serba gerak cepat karena Jakarta Pusat adalah wajah Indonesia.

“Maka semua hal harus kami persiapkan dan kami kelola sebaik-baiknya agar citra Jakarta tetap terjaga,” pungkas Arifin.

[Sabam Pakpahan]